Desa nelayan
Kelas : XII
Pada umumnya pengertian desa sering dikaitkan dengan sektor pertanian, alasannya asal-muasal desa karena pengenalan cocok tanam.
Secara keilmuan, ahli sosiologi menyatakan bahwa desa merupakan lingkungan di mana warga memiliki hubungan akrab dan bersifat informal. Paul H. Landis yang mewakili pakar sosiologi pedesaan,mengemukakan 3 definisi desa untuk tujuan analisis yang berbeda-beda,yaitu analisis statistik, analisis sosial psikologis, dan analisis ekonomi.
Menurut Roucek dan Warren, untuk memahami masyarakat desa dapat dilihat dari karakteristiknya yaitu:
- Besarnya peranan kelompok primer;
- Faktor geografis sebagai dasar pembentukan kelompok;
- Hubungan bersifat akrab dan langgeng;
- Homogen;
- Keluarga sebagai unit ekonomi;
- Populasi anak dalam proporsi lebih besar.
Menurut Pitirim A. Sorokin dan Carle C. Zimmerman faktor-faktor yang dapat menentukan karakteristik masyarakat desa dan
- mata pencaharian;
- ukuran komunitas;
- tingkat kepadatan penduduk;
- lingkungan;
- diferensiasi sosial;
- stratifikasi sosial;
- interaksi sosial;
- solidaritas sosial.
Pada kenyataannya karakteristik itu terlalu sukar untuk diterapkan pada masyarakat desa yang nyata, karena seiring dengan semakin meningkatnya mobilitas sosial masyarakat dan berkembangnya jalur transportasi maka yang terjadi adalah semakin tipisnya perbedaan antara desa dan
Selain komunitas desa pertanian terdapat pula komunitas desa nelayan. Faktor penentu struktur komunitas desa nelayan adalah pemilikan sarana menangkap ikan (perahu, jaring-jaring, harpun, dan lainnya). Secara umum terdapat dua strata pokok dalam struktur masyarakat desa yaitu juragan dan buruh nelayan. Selain itu terdapat pula strata komando kapal yang posisinya ada di tengah-tengah kedua strata tersebut. Kondisi komunitas desa nelayan ini ternyata lebih miskin dibanding komunitas desa pertanian.
Oebubun jadi desa nelayan terpadu
Kefamenanu, NTT Online-Desa Oebubun, di Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) ditetapkan menjadi desa nelayan terpadu oleh Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si. Pengukuhan sebagai desa nelayan terpadu dalam acara kegiatan sosialisasi dan advokasi Gerakan Masuk Laut (Gemala) di desa tersebut, Senin (26/6) petang. Di desa ini nantinya akan dikembangkan budidaya ikan tambak, rumput laut, tempat wisata dan pusat kerajinan dan cendera mata.
“Jadi mulai hari ini, Desa Oebubun saya tetapkan sebagai desa nelayan terpadu. Desa ini akan menjadi pusat kegiatan budidaya ikan tambak, rumput laut, tempat wisata bahari dan pusat kerajinan dan cendera mata dan sebagainya,” jelas Bupati Manek di hadapan warga yang mengikuti sosialisasi Gemala.
Bupati Manek mengatakan, sekarang pemerintah sedang berupaya memikirkan cara yang tepat untuk mengeksploitasi laut yang sangat kaya bagi pengembangan ekonomi rakyat. Di darat, lahan makin sempit, kesuburan tanah makin berkurang serta luas hutan makin sempit dan kritis, dan hasil garapan tidak banyak.
Sementara Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya, menegaskan, Pemerintah NTT mendukung penetapan Desa Oebubun menjadi desa nelayan terpadu. “Dengan penetapan ini, semua aktivitas terkait eksploitasi hasil laut menjadi lebih terkoordinir dan mendapat perhatian dari eksekutif maupun Dewan. Ini salah satu bentuk dan cara yang sangat bagus dalam rangka gerakan masuk laut,” jelasnya.
Wini kota satelit
Ketua Pokja Sarana dan Prasarana Gemala NTT, Ir. Piet Djami Rebo, M.Si, ketika dimintai komentarnya mengatakan, pihaknya sangat mendukung penetapan Oebubun sebagai desa nelayan terpadu bagi pengembangan program Wini sebagai Kota Satelit untuk masa mendatang. “Saya sebagai Ketua Pokja Sarana dan Prasarana Gemala NTT sudah memrogramkan pengembangan pesisir Pantai Wini dan sekitarnya. Sekarang saja kami sudah mulai dengan pengembangan Irigasi Mena di Pantai Utara, dalam rangka mendukung pengembangan program Winisebagai Kota Satelit.
Termasuk ruas jalan internasional dari Atapupu hingga Wini sudah pemerintah bangun. Tahun ini, jalan tembus dari Wini ke Maubesi dibangun. Ke depan, pemerintah akan menata ruang dan membangun pemukiman yang lebih baik di Wini,” jelas Djami Rebo.
Sementara beberapa warga yang dimintai komentarnya tentang program Gemala mengatakan sangat mendukung program itu karena membantu warga meningkatkan pendapatan ekonominya. “Tapi saya minta bantuan ketinting dan perahu yang diberikan pemerintah. Akan lebih bagus kalau didampingi penyuluh. Bagaimana kami melaut dengan baik dan merawat perahu serta alat tangkap lainnya, kalau penyuluh tidak ada dan tidak pernah turun ke pantai?” keluh Bonefasius Bone, nelayan dari Desa Oepuah.
Basilius Nailiu, minta pemerintah serius dengan sosialisasi Gemala kepada warga di pantai utara TTU. “Selama ini saya menjadi nelayan di Flores Timur dan dipercayakan sebagai Wakil Sekretaris Himpunan Nelayan Flotim. Saya ingin pulang ke Timor dan bekerja bersama saudara saya dalam mengesploitasi laut. Tapi saya minta pemerintah serius. Bantulah nelayan dengan rumpon dan kapal serta alat tangkap lainnya. Bisa juga dengan memberikan modal usaha,” tukas Nailiu, yang diundang khusus Wagub NTT ke Wini. (PK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar